internationalrelationsunjani

Just another WordPress.com site

Tinjauan Umum Diplomasi

Pertemuan II
Tinjauan Umum Diplomasi.
A. Pendahuluan
Diplomasi adalah seni dan praktek bernegosiasi oleh seseorang (disebut diplomat) yang biasanya mewakili sebuah negara atau organisasi. Kata diplomasi sendiri biasanya langsung terkait dengan diplomasi internasional yang biasanya mengurus berbagai hal seperti budaya, ekonomi, dan perdagangan. Biasanya, orang menganggap diplomasi sebagai cara mendapatkan keuntungan dengan kata-kata yang halus.
Diplomasi yang paling sederhana dan tertua adalah diplomasi bilateral antara dua pihak dan biasanya merupakan misi dari kedutaan besar dan kunjungan kenegaraan. Contohnya adalah Persetujuan Perdagangan Bebas Kanada-Amerika antara Amerika Serikat dan Kanada. Jenis lainnya adalah diplomasi multilateral yang melibatkan banyak pihak dan bisa ditelusuri dari Kongres Wina. PBB adalah salah satu institusi diplomasi multilateral. Beberapa diplomasi multilateral berlangsung antara negara-negara yang berdekatan atau dalam satu region dan diplomasi ini dikenal sebagai diplomasi regional.
Diplomasi telah menjadi salah satu bagian yang vital dalam kehidupan negara dan merupakan sarana utama guna menangani masalah-masalah internasional agar dapat dicapai suatu perdamaian dunia. Dengan sarana diplomasi itu pemerintah menjalankannya dalam rangka mencapai tujuannya dan mendapatkan dukungan dari prinsip-prinsip yang dianutnya. Diplomasi yang merupakan proses politik itu terutama dimaksudkan untuk memelihara kebijakan luar negeri suatu pemerintah dalam mempengaruhi kebijakan dan sikap pemerintah negara lainnya. Sebagai sebuah proses politik, diplomasi juga merupakan bagian dari usaha saling mempengaruhi yang sifatnya sangat luas dan berbelit-belit dalam kegiatan internasional yang dilakukan oleh pemerintah maupun organisasi internasional untuk meningkatkan sasarannya melalui saluran diplomatik.
Secara etimologis, kata “diplomasi” berasal dari kata Yunani “diploun” berarti melipat. Hal ini merujuk kepada fenomena yang ada pada masa Kekaisaran Romawi dimana semua paspor yang melewati jalan negara dan surat-surat jalan dicetak pada piringan logam dobel, dilipat dan dijahit jadi satu. Surat jalan logam ini disebut “diplomas”. Pada zaman Pertengahan, semua surat resmi negara yang dikumpulkan, disimpan di arsip, yang berhubungan dengan hubungan internasional dikenal dengan nama “diplomaticus” atau “diplomatique”. Siapapun yang berhubungan dengan surat-surat tersebut dikatakan sebagai milik “res diplomatique” atau “bisnis diplomatik”. Dari masa ke masa kata “diplomasi” dihubungkan dengan manajemen hubungan internasional dan siapapun yang ikut mengaturnya dianggap sebagai “diplomat”.
Menurut Ernest Satow : kata diplomasi pertama kali dipakai Burke untuk menunjukkan keahlian atau keberhasilan dalam melakukan hubungan internasional dan perundingan di tahun 1796. Burke juga menggunakan istilah pertama kali “lembaga diplomatik” pada tahun yang sama. Istilah “jasa diplomatik” dalam arti cabang pelayanan negara yang menyediakan personil-personil misi tetap di luar negeri dijumpai dalam “Annual Registrar tahun 1787”.
B. Definisi Diplomasi.
Istilah diplomasi seringkali digunakan dalam pembicaraan sehari-hari, namun dilplomasi memiliki banyak arti. Berikut ini adalah beberapa definisi diplomasi yang dikemukakan oleh para ahli diantaranya :
Menurut “Random House Dictionary” diplomasi diartikan sebagai “Tindakan pejabat pemerintah untuk mengadakan perundingan-perundingan dan hubungan lainnya antara negara-negara; seni atau pengetahuan untuk melakukan perundingan-perundingan tersebut ; kepandaian untuk mengatur atau melakukan perundingan, menghadapi orang-orang, dengan demikian ada sedikit atau tidak adanya kebijakan yang bersifat dendam”
Menurut Sir Ernest Satow mendefinisikan “ diplomasi adalah penggunaan dari kecerdasan dan kebijaksanaan untuk melakukan hubungan resmi antar pemerintah negara-negara merdeka, kadang-kadang juga dilakukan dalam hubungan negara-negara pengikutnya atau lebih singkat lagi, pelaksanaan urusan tersebut dilakukan antara negara-negara dengan cara damai”.
Menurut Ian Brownlie, “Diplomasi merupakan setiap cara yang diambil untuk mengadakan dan membina hubungan dan berkomunikasi satu sama lain atau melaksanakan transaksi politik maupun hukum yang didalam setiap hal dilakukan melalui wakil-wakilnya yang mendapat otorisasi”.
R.P Barston, menyatakan bahwa “ diplomasi itu menyangkut pengelolaan dari hubungan-hubungan antar negara termasuk hubungan negara-negara dengan pelaku-pelaku lainnya”.
Ivo D. Duchacek : “Diplomasi biasanya didefinisikan sebagai praktek pelaksanaan politik luar negeri suatu negara dengan cara negosiasi dengan negara lain”
Clausewitz : Perang merupakan kelanjutan diplomasi melalui sarana lain;
Hans J. Morgenthau : Memberikan arti diplomasi dalam arti luas dan arti sempit :
a. Dalam arti luas
Diplomacy is formation and execution of foreign policy on all levels, the highest as well as the sub-ordinate. (Diplomasi adalah pembentukan dan pelaksanaan politik luar negeri dalam segala tingkatnya, dari yang tertinggi hingga yang terendah)
Jadi dalam hal ini menyangkut perumusan dan pelaksanaan politik luar negeri dalam segala tingkatnya.
b. Dalam arti sempit
Diplomasi adalah suatu medium, channel, atau cara dimana hubungan resmi antara pemerintah itu terjadi;
Catatan :
Disini dibedakan pengertian diplomasi dan politik luar negeri. Diplomasi sebagai proses, sedangkan politik luar negeri sebagai pelaksanaan.
8. Menurut S.L. Roy dari berbagai definisi diplomasi yang dijelaskan di atas tampak jelas:
Pertama : bahwa unsur pokok diplomasi adalah negosiasi;
Kedua : negosiasi dilakukan untuk mengedepankan kepentingan negara;
Ketiga : tindakan-tindakan diplomatik diambil untuk menjaga dan memajukan kepentingan nasional sejauh mungkin bisa dilaksanakan dengan sarana damai. Karenanya : pemeliharaan perdamaian tanpa merusak kepentingan nasional adalah tujuan utama diplomasi.
Keempat : teknik-teknik diplomasi sering dipakai untuk menyiapkan perang dan bukan untuk menghasilkan perdamaian.
(Tetapi apabila cara damai gagal untuk menjaga kepentingan nasional, kekuatan biasanya digunakan, sehingga terdapat keterkaitan antara diplomasi dan perang).
Kelima : diplomasi dihubungkan erat dengan tujuan politik luar negeri suatu  negara.
Keenam : diplomasi modern dihubungkan erat dengan sistem negara;
Ketujuh : diplomasi juga tak bisa dipisahkan dari perwakilan negara.
C. Ruang Lingkup Diplomasi
Dalam prakteknya diplomasi harus dibedakan dengan politik luar negeri, oleh karena itu diperlukan adanya batasan diantara kedua konsep tersebut. Dimana, “ diplomasi bukanlah merupakan kebijakan, tetapi merupakan lembaga untuk memberikan pengaruh terhadap kebijakan tersebut. Namun diplomasi dan kebijakan keduanya saling melengkapi karena seseorang tidak akan dapat bertindak tanpa kerjasama satu sama lain. Diplomasi tidak dapat dipisahkan dari politik luar negeri, tetapi keduanya bersama-sama merupakan kebijakan eksekutif-kebijakan untuk menetapkan strategi, diplomasi dan taktik”. Disatu pihak, kebijakan atau politik luar negeri memiliki perhatian pada substansi dan kandungan dari hubungan luar negeri, dan dipihak lain, perhatian diplomasi dipusatkan kepada metodologi untuk melaksanakan kebijakan luar negeri.
Diplomasi merupakan cara-cara yang dilakukan dalam hubungan internasional melalui perundingan, cara mana dilaksanakan oleh para duta besar ; yang merupakan pekerjaan atau seni dari diplomat. Diplomasi merupakan suatu cara berkomunikasi yang dilakukan antara berbagai pihak termasuk negosiasi antara wakil-wakil yang sudah diakui. Praktek-praktek negara semacam itu sudah melembaga sejak dahulu dan kemudian menjelma sebagai aturan-aturan hukum internasional. Dengan demikian diplomasi juga merupakan cara-cara yang dilakukan oleh pemerintah suatu negara untuk mencapai tujuannya dan memperoleh dukungan mengenai prinsip-prinsip yang diambilnya.
D. Tujuan Diplomasi
Kautilya, seorang diplomat kawakan India Kuno, dalam bukunya “Arthasastra” menyatakan bahwa pencapaian “Kebijaksanaan” (naya) secara tepat akan memberikan hasil yang menguntungkan.
Kautilya menekankan empat tujuan utama diplomasi yaitu :
acquisition (perolehan);
preservation (pemeliharaan);
augmentation (penambahan);
proper distribution (pembagian yang adil).
Disamping itu tujuan diplomasi Kautilya yakni “kebahagiaan” (siddhi) dan selama tujuan tersebut hanya bisa diperoleh melalui pemilikan kekuatan (power), seorang raja harus selalu berupaya untuk menambah kekuatannya sendiri dan mengangkat kebahagiaannya.
Apabila gagal, sang raja, harus berusaha mencoba mengingkari hal yang sama kepada musuhnya.
Ratusan tahun yang lalu Kautilya menyimpulkan tujuan utama diplomasi untuk “pengamanan kepentingan negara sendiri”.
Jadi tujuan diplomasi menurut Kautilya yaitu “untuk menjamin keuntungan maksimum negara sendiri” dan kepentingan utama nampaknya adalah “pemeliharaan keamanan”.
Tujuan vital lainnya antara lain :
memajukan ekonomi;
perdagangan dan kepentingan komersil;
perlindungan warganegara sendiri di negara lain;
mengembangkan budaya dan ideologi;
peningkatan prestise nasional;
memperoleh persahabatan dengan negara lain, dsb.
Secara luas tujuan ini bisa dibagi menjadi empat yaitu :
Tujuan Politik;
Tujuan Ekonomi;
Tujuan Budaya;
Tujuan Ideologi.
Tujuan Politik Dari Diplomasi
Tujuan Diplomasi bagi setiap negara adalah “pengamanan kebebasan politik dan integritas teritorialnya”;
Hal ini bisa dicapai dengan cara :
Memperkuat hubungan dengan negara sahabat;
Memelihara hubungan erat dengan negara-negara sehaluan;
Menetralisir negara yang memusuhi.
Kesemuanya dapat dilakukan melalui negosiasi.
Contoh dua negara yang bertentangan tetapi mengedepankan kepentingan nasionalnya melalui diplomasi yaitu antara Nazi Jerman dan Uni Soviet menjelang Perang Dunia II.
Nazi Jerman menerima perjanjian dengan Soviet dengan harapan Jerman akan bisa terlebih dahulu melakukan agresi terhadap Polandia dan kemudian Eropa Barat tanpa khawatir akan front Timurnya;
Soviet menggunakan perjanjian itu sebagai usaha memperoleh pengunduran waktu dari serangan Jerman yang tak terelakkan nantinya. Dalam waktu penundaan ini, ia bisa memperkuat kekuatan militernya sebaik mungkin yang pada akhirnya membantunya mengalahkan Nazi Jerman.
Karena hasil peperangan sulit diramalkan, sarana-sarana diplomatik digunakan sebagai perlindungan untuk menghindari malapetaka, sejauh hal itu tidak merugikan kepentingan nasionalnya.
Namun apabila kepentingan nasionalnya hanya bisa dijalankan dengan konflik bersenjata, negara tidak ragu untuk melaksanakannya.
Sebelum memulai perang :
Negara tersebut harus mengukur secara tepat kekuatannya dalam menghadapi lawan;
Melalui diplomasi berusaha mengisolasi lawannya untuk melemahkan lawan secara moral;
Negara tersebut berusaha memperoleh sebanyak mungkin dukungan dari temannya, sehingga tidak satupun akan ikut memusuhinya.
E. Tugas dan Fungsi Diplomasi.
Jika berbicara mengenai tugas dari diplomasi sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari tugas para pelakunya maupun institusinya, terutama adalah para diplomat dengan perwakilan diplomatiknya yang berada di suatu negara sebagaimana yang tercantum dalam “konvensi Wina 1961 Mengenai Hubungan Diplomatik”. Menurut Hans J Morgenthau tugas diplomasi dibagi dalam empat pokok :
Diplomasi harus membentuk tujuan dalam rangka kekuatan yang sebenarnya untuk mencapai tujuan tersebut. Suatu negara yang ingin menciptakan tujuan-tujuan yang belum dicapai haruslah berhadapan dengan suatu resiko untuk perang. Karena itu diperlukan suksesnya diplomasi untuk mencoba mendapatkan tujuannya tersebut sesuai dengan kekuatannya.
Disamping melakukan penilaian tentang tujuan-tujuannya dan kekuatannya sendiri, diplomasi juga harus mengadakan penilaian tujuan dan kekuatan dari negara-negara lainnya. Dalam hal ini, suatu negara haruslah menghadapi resiko akan terjadinya peperangan apabila diplomasi yang dilakukanya itu salah dalam menilai mengenai tujuan dan kekuatan dari negara-negara lain.
Diplomasi haruslah menentukan dalam hal apa perbedaan yang ada pada tujuan-tujuan itu dapat cocok satu sama lain. Diplomasi harus dilihat kepentingan negaranya sendiri dengan negara lain cocok. Jika jawabannya “tidak” maka harus dicari jalan keluar untuk merujukan kepentingan-kepentingan tersebut.
Diplomasi harus menggunakan cara-cara yang pantas dan sesuai seperti kompromi, bujukan bahkan kadang-kadang ancaman kekerasan untuk mencapai tujuan.
Pengertian tentang tugas diplomasi, tidak lain hal itu menyangkut pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan didalam melakukan diplomasi yang menurut R.P Barston dapat digolongkan dalam enam bidang yang cukup luas, yaitu :
Bidang pertama yang dianggap sanga penting adalah mengenai keterwakilan yang meliputi keterwakilan murni termasuk penyerahan surat-surat kepercayaan, protokol dan keikutsertaan di dalam kegiatan-kegiatan diplomatik yang dilakukan di ibu kota atau lembaga-lembaga pemerintahan setempat. Jika kita melihat kembali, sebenarnya aspek yang paling penting adalah keterwakilan yang bersifat substantif, yaitu mencakup bukan saja usaha-usaha untuk menjelaskan dan mempertahankan kebijakan nasional yang disalurkan melalui perwakilan-perwakilan diplomatik dan saluran-saluran luar lainnya, tetapi juga untuk melaksanakan perundingan dan penafsiran tentang kebijakan dalam dan luar negeri dari pemerintah negara penerima.
Tugas untuk melakukan tindakan sebagai tempat untuk mendengarkan atau memantau merupakan kelanjutan dari keterwakilan yang bersifat substantif. Jika berfungsi dengan benar maka, kedutaan besar sebuah negara harus dapat mengidentifikasi permasalahan-permasalahan kunci, pola-pola dalam dan luar negeri yang muncul termasuk implikasinya agar dapat memberikan informasi terkait dengan saran maupun peringatan kepada negara pengirim.
Meletakan dasar kerja atau mempersiapkan dasar bagi suatu kebijakan atau prakarsa-prakarsa baru.
Dalam hal terjadinya konflik bilateral yang meluas dan potensial maka diplomasi diupayakan untuk mengurangi ketegangan atau melicinkan roda dalam rangka memelihara hubungan secara bilateral maupun multilateral.
Untuk memperluas tujuan-tujuan tersebut, diplomasi juga berfungsi untuk menyumbang kepada perubahan-perubahan yang aman dan tertib.
Pada tingkat lebih umum, tugas penting dari diplomasi adalah untuk menciptakan, merumuskan, dan mengadakan perubahan-perubahan terhadap peraturan internasional yang luas mengenai jenis peraturan dan norma-norma yang dapat memberikan bentuk dalam sistem internasional.

Posted from WordPress for Android

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 7, 2012 by in Bahan Kuliah and tagged , , , , .
%d bloggers like this: