internationalrelationsunjani

Just another WordPress.com site

Globalisasi dan Terorisme

PENDAHULUAN
Globalisasi terus berjalan dengan cepat, Globalisasi merupakan sebuah konsepsi yang menggambarkan bahwa saat ini dunia terintegrasi secara politik dan ekonomi. Globalisasi bukanlah sebuah hal yang secara alami terjadi ( natural ) namun merupakan sebuah proses yang terjadi secara sadar karena dirancang dengan terencana oleh manusia. Secara umum globalisasi merupakan sebuah proses dimana mengglobalnya atau mendunianya “sesuatu” yang melintasi batas-batas negara. dimana “sesuatu” disini diartikan sebagai ide, barang dan jasa maupun aktor-aktor yang lain dalam Hubungan Internasional seperti  MNC`s, LSM, Kelompok Teroris maupun individu.
Globalisasi kemudian memudah berbagai kegiatan hugungan internasional, salah satunya adalah terorisme. terorisme bisa diartikan suatu kegiatan seseorang yang menimbulkan rasa ketakutan pada masyarakat banyak yang didalamnya mengandung unsure politik. Pada Desember 2008 serangandi beberapa situs di Mumbai, India, serta peningkatan pembajakan dekat pantai Somalia, indikasi jelas bahwa teror telah menjadi biasa fakta kehidupan. Teror dan globalisasi sudah tua namun kecepatan mereka pertumbuhan dan perkembangan baru. Jatuhnya 2008 krisis keuangan memiliki menyoroti globalisasi ekonomi di mana-mana. Bank gagal dan nilai-nilai saham yang jatuh telah diteror banyak orang di sekitar dunia. Akhirnya, orang miskin akan membayar harga sebagai kesengsaraan ekonomi dari kaya akan bermigrasi ke celaka bumi. Mereka, pada gilirannya, akan kembali merespons tidak hanya dengan putus asa tapi mungkin dengan gelombang baru kekerasanyang akan bermigrasi ke orang kaya. Globalisasi dan terorisme, pada Intinya, saling terkait.

dalam jurnal ini kami akan membahas mengenai globalisasi dan juga terorisme. Globalisasi kemudian dikaitkan dengan liberalisasi, westrenisasi, universalisai dan kapitalisme. Globalisasi juga tidak lepas dari kekerasan yang sekarang ini sering terjadi didunia, yang sekarang lebih berkembang dan dikenal dengan terrorisme.

PEMBAHASAN

GLOBALISASI DAN TERORISME
Globalisasi adalah isu yang sangat kontroversial. Cendekiawan berada di tengah-tengah perdebatan tentang globalisasi. Beberapa menyamakan globalisasi dengan saling ketergantungan, orang lain dengan liberalisasi, yang lainnya belum menyamakannya dengan universalisasi, westernisasi, dan bahkan imperialisme. Globalisasi juga telah disamakan dengan transnationalization, tetapi kenyataannya adalah bahwa dua konsep berbeda. Transnationalization meningkatkan entitas nasional, sementara globalisasi kadang-kadang melemahkan mereka.
Globalisasi, suatu kata yang tidak asing pada masa kontemporer ini, suatu kata yang sudah mendarah daging dalam benak masyarakat Dunia umumnya dan Indonesia khususnya. Globalisasi adalah sebuah sistem dunia yang semakin menegaskan wujudnya pasca Perang Dingin. Jika pada masa Perang Dingin dunia ditandai oleh pembagian wilayah yang jelas antara blok Barat (kapitalis), blok Timur (komunis) dan non-blok (negara-negara berkembang), maka globalisasi ditandai oleh integritas dunia melalui jaringan informasi dan penemuan teknologi transportasi yang semakin mengaburkan batas-batas wilayah teritorial. Perang Dingin ditandai oleh adanya batas wilayah, sementara globalisasi muncul menghancurkan batas, dunia malah dihubungkan dalam jaringan besar tanpa batas.

AKAR PENYEBAB DAN KONSEKUENSI GLOBALISASI
Agama, teknologi, ekonomi, dan kerajaan adalah mesin yang memberdayakan drive terhadap globalisasi. Dengan demikian, kekuasaan, kekayaan, dan keserakahan memainkan peran utama sebagai akar penyebab globalisasi. Bahkan bidang teknologi ini bisa dibilang didorong oleh motif keuntungan. Dalam rangka untuk serius membicarakan globalisasi, analisis akar penyebab dan konsekuensi diperlukan.
Globalisasi berakar pada kekuasaan dan kekayaan. Apakah untuk kemuliaan Allah, kekaisaran, bangsa, atau korporasi, penyebaran orang, barang, dan ide tumbuh dan berkembang. Dalam prosesnya, hegemoni terus ke abad kedua puluh satu dengan kedok globalisasi. Tapi perkembangan hegemoni telah berubah dari waktu ke waktu. Dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah runtuhnya Uni Soviet, Amerika Serikat telah menemukan dirinya sebagai kekuatan hegemonik tunggal global. Dengan sayap perusahaannya mencapai setiap bagian dari dunia, Amerika Serikat berangkat untuk melindungi dominasi ekonomi dan militer.

GLOBALISASI SEBAGAI LIBERALISASI
Banyak para pendukung globalisasi bependapat bahwa runtuhnya Uni Soviet adalah awal dari era baru dalam hubungan internasional. Era baru ini merupakan kemenangan antara liberalisasi politik dan ekonomi. Globalisasi ini dilihat sebagai sebuah cara untuk menghapus pembatasan perdagangan, menciptakan integritas terbuka, ekonomi dunia yang tanpa batas, dan ekonomi dunia pertama dan ketiga.
Menurut prof. Deepak lal dari university of California yang berpendapat bahwa tatanan ekonomi liberal menjanjikan kemakmuran yang belum pernah terjadi sebelumnya, sebagai globalisasi korporasi yang memperluas kemungkinan konsumsi saat ini dan masa depan dengan memperluas ketersediaan terhadap barang asing.
Dalam era globalisasi ini di bentuklah bebrapa lembaga- lembaga ekonomi unternasional seperti IMF, Bank Dunia, WTO, dll. Masing – masing lebaga internasional tersebut mempunyai misi yaitu :
WTO ,  mengatur tentang sengketa perdagangan yang terjadi antara Negara – Negara anggota untuk mengurangi hambatan perdagangan atau untuk menghilangkan hambatan untuk keuntungan perusahaan.
IMF dan Bank Dunia , menyediakan pinjaman ke berbagai  dunia ketiga. Dengan adanya persyaratan bahwa Negara – Negara penerima pinjaman menurunkan hambatan perdagangan mereka.
GLOBALISASI SEBAGAI UNIVERSALISASI
Globalisasi disini sudah mendunia, maksudnya tidak terjadi di suatu tempat karena ada terjadinya suatu kejadian. Globalisasi ada tanpa bisa tercegah seperti : negara yang  melaksanakan perjanjian perdagangan komprehensif, seperti Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) dan Persetujuan Umum mengenai Tarif dan Perdagangan (GATT), serta untuk menegakkan agenda lembaga-lembaga bisnis internasional, seperti IMF, Bank Dunia, dan WTO. Bahkan, orang dapat dengan mudah menyatakan bahwa perusahaan bergantung pada pemerintah sekarang lebih dari sebelumnya.

GLOBALISASI SEBAGAI WESTRNISASI
Globalisasi sebagai westernisasi adalah globalisasi yang mengarah pada penyebaran budaya Barat dan praktek di seluruh dunia. Proses modernisasi ini sama saja dengan Amerikanisasi dunia. Beberapa berpendapat globalisasi yang mengarah ke Dunia Mc homogen di mana budaya populer Amerika dan konsumerisme adalah menyalip dunia. Menolak dominasi Amerika dan konsumtif seperti, budaya lain memproduksi gerakan perlawanan, yang Pemangkas Rambut sebut sebagai jihad (perang suci)
GLOBALISASI SEBAGAI KAPITALISME
Globalisasi kapitalisme adalah sebuah ideologi ekonomi pasar. Yang berisikan dari beberapa pendapat bahwa praktek bisnis yang dominan yang memprioritaskan keuntungan dengan mengesampingkan lingkungan, tenaga kerja, dan perlindungan sosial lainnya.sebagai contoh lembaga internasional yang diserang adalah WTO. Sebagian berpendapat bahwa WTO menghambat arus perdagangan.
KRITIK TERHADAP KELEMBAGAAN IMF
Ada beberapa ahli yang berpendapat bahwa syarat IMF dalam meminjamkan uang terlalu berat dan sangat merugikan negara yang bersangkutan. Terdapat empat proses langkah yang diwajibkan oleh IMF untuk setiap negara yang akan menerima pinjaman Bank Dunia.
Wajib privatisasi negara, seperti perusahaan listrik dan air. Wajib privatisasi dipandang sebagai kontroversial dikarenakan ketika mempertimbangkan kegagalan sebuah perusahaan baru seperti Enron dapat menimbulkan dampak buruk dari kegagalan tersebut pada ekonomi nasional dan masyarakat.
Liberalisasi pasar yang sudah tidak berlaku, yang berarti penurunan rintangan yang membatasi aliran modal masuk dan keluar dari negara Dunia Pertama dan Ketiga. Negara dalam keadaan krisis ekonomi sangat rentan, dimana uang biasanya mengalir keluar daripada masuk.
Memastikan harga berbasis pasar, atau dengan kata lain menaikkan harga barang kebutuhan dasar . Peningkatan harga ini, menimbulkan efek yang kurang baik terhadap masyarakat miskin, karena mereka jadi kesulitan memenuhi kebutuhannya, seperti air, listrik,dan makanan. 
Wajib perdagangan bebas, yang berarti pengurangan yang diperlukan dalam tarif dan hambatan perdagangan lainnya yang mengalir dari Dunia Pertama ke Dunia Ketiga. Meskipun begitu, dalam kenyataanya tetap saja bahwa negara- negara dalam Dunia Pertama yang diijinkan melakukan proteksionisme dan monopoli perlindungan secara hukum dengan membatasi tarif lanjutan impor barang asing.
Tidak semua orang telah mendapatkan manfaat dari adanya globalisasi korporasi. Hal ini justru menimbulkan ketidaknyamanan dalam dunia kerja. Keuntungan dari globablisasi ini justru lebih berdampak terhadap produsen karena mengalami peningkatan pendapatan, namun dampak buruknya justru terhadap tenaga kerja, karena mereka dibayar murah dan waktu kerja mereka melebihi standar yang seharusnya. Terutama bagi pekerja di negara- negara miskin yang dalam kebijakannya mendapatkan upah yang sangat renadh dan lingkungan kerja yang buruk. Contohnya saja di Pakistan, disana terdapat pabrik tenun karpet yang tenaga kerjanya banyak merekrut anak- anak. Fenomena tersebut menggambarkan secara nyata, bahwa banyak ketidakadilan yang terjadi atas dampak dari globalisasi korporasi.
Banyak ahli lingkungan menentang globalisasi ini, karena takut akan dampaknya yang mengakibatkan trauma lingkungan yang sebelumnya belum pernah terjadi pada skala global. Ahli lingkungan berpendapat bahwa akan banyak perusahaan yang mengabaikan lingkungan dalam penyerbuannya untuk keuntungan mega dan supremasi pasar. Dengan alasan ini, para ahli lingkungan lebih mendukung produksi barang konsumen yang akan memenuhi kebutuhan dunia melalui metode yang ramah lingkungan, sehingga masyarakat menjadi lebih sadar degadrasi lingkungan yng pada akhirnya mempengaruhi mereka.
Beberapa intelektual, aktivis dan kelompok agama juga menentang globalisasi korporasi karena dampaknya kepada nilai- nilai. Menurut mereka, globalisasi merupakan bentuk baru dari imperialisme budaya. Namun tidak bisa dipungkiri juga bahwa globalisasi ini menjadikan masyarakat lebih banyak tahu tentang keadaan dunia melalui perkembangan media informasi dan komunikasi, hanya saja tidak semua efeknya berdampak positif.
GLOBALISASI DAN KEKERASAN
Setiap kali WTO, Bank Dunia, IMF atau para pemimpin ekonomi utama bertemu, demonstrasi pecah. Beberapa telah berubah menjadi kekerasan, namun potensi kekerasan yang terkait globalisasi ini jauh lebih serius dan tahan lama daripada masalah lain. Banyak kejadian seperti, penculikan dan pembunuhan pada eksekutif perusahaan, banyak outlet perusahaan yang dirusak, aksi polisi yang banyak menagkap dan membunuh pelaku kekerasan globalisasi, dan penyerangan dari kelompok gerilya pada jaringan pipa minyak multinasional yang menggagu aliran minyak ke pasar. Pemerintah tidak berdaya disini. Jika mereka mencoba untuk mengehentikan penyebaran informasi, tentu masyarakat mereka akan jauh tertinggal dari yang lain. Tetapi apabila pemerintah membiarkan globalisasi ini, berarti mereka mengambil resiko konsekuensi yang tidak diinginkan.
TERORISME
Terorisme merupakan salah satu konsep yang membuat alat-alat politik yang luar biasa. Kekuatan kolonial menggunakannya untuk merujuk kepada kelompok-kelompok nasionalis dan  mereka untuk mendapatkan kemerdekaan. Untuk tujuan buku ini, terorisme didefinisikan sebagai label politik diberikan kepada orang-orang yang dianggap merencanakan atau melakukan terbuang kekerasan untuk tujuan politik. Mereka yang melakukan kegiatan teroris yang sering disebut sebagai orang yang putus asa, yang hidupnya telah tersiksa oleh sekelompok orang yang lebih kuat darinya.
Banyak negara Dunia Ketiga mengidentifikasi agresi Dunia Pertama dengan terorisme. Pasca 11 September 2001, Amerika Serikat terlibat dalam Perang Melawan Teror. Perang ini membawa pasukan AS ke Afghanistan dan sejumlah negara lain dan menyebabkan reorganisasi keamanan dan aparat intelijen.
Ted Robert Gurr berpendapat bahwa semakin besar kesenjangan antara dua individu, maka besar kemungkinan akan terjadi kekerasan di antara keduanya. Jika teori ini benar adanya, maka bisa dikatakan bahwa harapan meningkatnya orang miskin di desa Chad atau di tempat lain dapat berkontribusi pada meningkatnya kekerasan. Laju penyebaran globalisasi juga dapat menyebabkan terjadinya tindak kekerasan, terlebih ketika masyarakat menerima dengan cepat dampak dari adanya globalisasi tersebut maka mereka akan mengalami apa yang di namakan polarisasi.
Di Amerika Serikat, ketika negara mengalami transformasi besar dari ekonomi pertanian berdasarkan perkebunan dan perbudakan sebagai sarana utama produksi menjadi masyarakat industri tergantung pada batu bara dan tenaga kerja, negara tergelincir ke dalam perang sipil. Fenomena yang sama terjadi di Inggris selama revolusi Cromwell, di Perancis pada 1789, dan di Rusia pada awal abad ke-20.
RELEVANSI GLOBALISASI DAN TERORISME DIABAD KE DUA PULUH
Planet kita memasuki abad kedua puluh satu melewati gerbang kekerasan dan berjalan ke dalam kamar kesulitan ekonomi. Serangan terhadap Amerika Serikat pada 11 September 2001, menandai awal dari konflik berdarah antara Amerika Serikat dan beberapa kelompok yang tak terlihat dan individu. Serangan itu sendiri ditargetkan struktur simbolis. Hal ini jelas mengharuskan amerika memberikan perhatiannya. September 11, 2001, kemungkinan akan turun dalam sejarah terorisme sebagai saat yang menentukan. Kekejaman hari itu dikutuk di seluruh dunia sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Ada kebulatan suara nearglobal bahwa semua negara harus bertindak bersama untuk membebaskan dunia dari individu dan kelompok yang melakukan kekejaman tersebut. Tapi respon AS lebih unilateral dan mirip politik abad sebelumnya. Pemboman besar Afghanistan dan Presiden Bus retorika tentang baik lawan jahat adalah pengingat masa lalu di mana divisi global antara Timur dan Barat entah bagaimana tindakan kekerasan dibenarkan dalam nama memusnahkan komunisme atau jahat. Fakta tetap bahwa kita hidup di era globalisasi dengan Amerika Serikat sebagai pemimpin global.
Kepemimpinan di era globalisasi harus menerapkan hukum internasional kepada semua pihak. Seorang pemimpin tidak bisa berharap untuk sukses dengan-out keseragaman penerapan hukum. Amerika Serikat sendiri merupakan subyek hukum internasional. Teman dan sekutu mata pelajaran juga. Namun kebijakan luar negeri AS terus menjadi selektif dalam penerapannya hukum. Untuk mantan yang cukup, ketika Irak menginvasi Kuwait pada pelanggaran hukum internasional, Amerika Serikat bergegas untuk memperbaiki yang salah. Tapi ketika Israel menduduki tanah Arab yang melanggar klausul yang sama dari hukum internasional, Amerika Serikat menyeret kakinya dan terus melakukannya. Respon Amerika terhadap serangan Irak di Kuwait kedaulatan muncul terutama munafik ketika mempertimbangkan bahwa Amerika Serikat dikutuk oleh PBB sebelumnya atas tindakan sendiri agresi yang melanggar hukum dengan invasi Panama.
Globalisasi memiliki konsekuensi pada nilai-nilai dan etika seperti di ekonomi. Terorisme juga memiliki konsekuensi pada nilai-nilai dan ekonomi. Kedua dampak cara kita berpikir dan hidup. Bersama-sama mereka telah mengantar era baru hubungan internasional dan global. Tidak ada negara yang mampu untuk mode kebijakannya pada norma-norma lama. Kita tidak mampu untuk melawan kejahatan dengan melakukan kejahatan. Musuh mengancam kami yang tersembunyi dalam jaringan negara non yang memberi makan pada kebencian, standar ganda, dan arogansi. Jika kita berharap untuk menciptakan dunia yang lebih damai, kita semua harus bertindak sebagai bagian dari komunitas global yang bekerja untuk membawa keamanan melalui sarana hukum secara kolektif dengan semua negara-negara lain di dunia.

RESESI  BESAR ATAS GLOBAL DAN GLOBALISASI

Resesi telah mengenal ekonomi kapitalis. Apa yang baru dalam penyerahan kembali dari 2008 2009 adalah jangkauan global dari krisis ekonomi. Bahkan, orang dapat berargumentasi bahwa acara ini adalah resesi pernah benar-benar global pertama. Pada akhir 2008, sistem keuangan global mengalami crisis tertandingi serius dalam sejarah. Lembaga keuangan besar runtuh dan pasar saham global turun drastis. Gelombang baru kapitalisme pada skala global, apa Manfred Steger menyebut globalisasi, telah menunjukkan wajah yang buruk. Barat adalah masalah ekonomi telah bermigrasi untuk menutupi planet ini. Tentu, yang paling parah terkena adalah selalu yang termiskin dari yang miskin. Negara-negara berkembang merasakan penurunan secara riil. Kecenderungan dua puluh tahun dari penurunan kemiskinan dihentikan. Bank Dunia melaporkan peningkatan angka kemiskinan sebesar 1,5 persen di bagian perkotaan Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, dan sub-Sahara Afrika pada akhir pertumbuhan astronomi 2008. The dalam kekayaan dan pengaruh perusahaan multinasional terhadap beberapa dekade terakhir akhirnya pulang ke kandang. Lembaga keuangan harus diselamatkan oleh pemerintah.

KESIMPULAN
KESIMPULAN
Globalisasi merupakan sebuah konsepsi yang menggambarkan bahwa saat ini dunia terintegrasi secara politik dan ekonomi. Beberapa menyamakan globalisasi dengan saling ketergantungan dengan liberalisasi, yang lainnya menyamakannya dengan universalisasi, westernisasi, dan bahkan imperialisme. Agama, teknologi, ekonomi, dan kerajaan adalah mesin yang memberdayakan drive terhadap globalisasi. Dengan demikian, kekuasaan, kekayaan, dan keserakahan memainkan peran utama sebagai akar penyebab globalisasi. Bahkan bidang teknologi ini bisa dibilang didorong oleh motif keuntungan. Hal tersebut menyebabkan ketidaksukaan golongan tertentu yang kemudian melakukan suatu perlawanan yang kemudian hal tersebut menimbulakan ketakutan pada masyatakat banyak yang sering disebut juga terorisme.
Terorisme didefinisikan sebagai label politik diberikan kepada orang-orang yang dianggap merencanakan atau melakukan terbuang kekerasan untuk tujuan politik. Mereka yang melakukan kegiatan teroris yang sering disebut sebagai orang yang putus asa, yang hidupnya telah tersiksa oleh sekelompok orang yang lebih kuat darinya. Serangan 11 september mengawali awal sejarah terorisme internsional, Kekejaman hari itu dikutuk di seluruh dunia sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Ada kebulatan suara global bahwa semua negara harus bertindak bersama untuk membebaskan dunia dari individu dan kelompok yang melakukan kekejaman tersebut. Fakta tetap bahwa kita hidup di era globalisasi dengan Amerika Serikat sebagai pemimpin global. Kepemimpinan di era globalisasi harus menerapkan hukum internasional kepada semua pihak. Seorang pemimpin tidak bisa berharap untuk sukses dengan keseragaman penerapan hukum.

Posted from WordPress for Android

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 7, 2012 by in Artikel mahasiswa and tagged , , , .
%d bloggers like this: